Tembak.... ayo
terus tembak...
“Berisik”, kata
itu yang pantas aku teriakan kepada temanku itu. Dari awal mulai latihan dia
udah teriak-teriak yang enggak jelas gitu. Dan membuatku sangat kesel. Namun,
aku tetap fokus pada tujuanku. Aku harus bisa menembaknya hingga hancur
berkeping-keping. Tapi, perasaan takut akan tembakanku melesat selalu dibiang
di benakku. Sungguh sangat berpengaruh disaat aku sedang menembak. Muncul
teriakan yang membuatku hilang kesadaran.
Diam sejenak, itu
lah yang kulakukan untuk menghentikan teriakan itu. Dengan begitu mulut cerewet
temanku bisa sedikit di rem. Hahahaha.... maklum dia adalah temanku yang paling
cerewet. Dibalik kecerewetannya itu tersimpan hal yang indah untukku yaitu
tulusnya persahabatan yang diberikannya untukku.
“Uh,,,
cape aku teriak panas-panas gini, eh kamu malah berhenti gitu aja? Ada apa
sih?” tanya Tania dengan wajah suntuk.
“Abisnya
kamu mulai duluan! Kamu berisik banget taulah. Heran, mulutmu tuh enggak bisa
diem apa?” Jawab Septa.
“Aku
kirain ada apa. aku kan kaya gitu supaya kamu semangat nembaknya,” sahut Tania.
“oke....oke...
tapi kamu jadi kecapean sendiri kan. Udah lebih baik kamu diem, supaya aku bisa
lebih konsen.”
“Dan pastinya.....?”
“Tembakanku
enggak akan meleset deh. Aku makasih banget kalau kamu udah buatku semangat.
Tapi, kamu diem aja aku udah semangat.” lanjut Septa dengan wajah yang
mengejek.
“Maksud
loe????” tanya Tania.
“Masa
kamu enggak tau? Atau pura-pura?” Septa balik nanya.
“Aku
benar-benar enggak tau.” Sahut Tania dengan wajah bingung.
Septa langsung
berdiri sambil menatap wajah temannya. Dengan nada mengejek Septa meninggalkan
temannya yang bingung karena omongannya sendiri.
“Dasar,
Tania punya otak tapi enggak digunakan untuk berpikir.” (sahutnya dalam hati) ***
Setelah berisitirahat beberapa menit, aku memulai
lagi untuk menembak. Akupun mulai membidiknya agar tepat sasaran. Dan akhirnya
aku berhasil mengenai buah Apel itu. Oh, tidaaaakkkkkk.... Aku langsung
berteriak kegirangan dan melompat tinggi. Orang-orang yang ada disekitar itu
terlihat bingung dengan sikapku yang aneh. Namun, aku tak memperdulikan mereka.
Aku berlari menuju tempat temannku yang sedang duduk bersantai ria. Dan
memeluknya, terkejut hatinya aku buat. Lalu diapun membalas pelukanku.
“Ada apa sih? Kamu koq girang banget
gini.” Tanya Tania.
“Aku berhasil.”
“Aku
berhasil mengenai buah Apel itu. Ternyata kemampuanku masih ada. Apa yang
dikatakan Rania itu bohong. Dia hanya mengarang cerita kalau ada yang
mengutukku. Hingga tak bisa menembak lagi. Walau hanya menembak Sebuah Apel.”
Jawab Septa dengan nada gembira.
“Wow,
kamu berhasil. Syukurlah, akupun ikut senang mendengar hal itu.”
“Tapi,
ngomong-ngomong bisa enggak kamu lepaskan pelukkan ini. Ntar dikirain kita ada
apa-apanya lagi. Kan aku masih wajar kaleee...” Sindir Tania.
“Opppsss,,,
maaf bah. Kita pulang yuk. Besok kan ada pertandingan tembak-menembak. Aku mau
ikut, kamu temanin aku yah. Ntar dirumah latihan nembak lagi aku.” Jawab Septa.
Tanpa berkata
apapun Tania langsung menarikku pulang. Sore itu begitu indah, membuatku
semangat kembali untuk ikut perlombaan, dan percaya diriku muncul lagi.
Senyuman yang tak pernah kulepaskan dari wajahku. Terkadang Tania melihatku
seperti layaknya orang gila. Aku pikir itu wajar, karena tania belum pernah
merasakan hal yang sebegitu indah buatku.
“Besok,
jemput aku jam 09.00 WITA yah. Walaupun acara perlombaannya dimulai jam 03.00
sore, tapi aku mau latihan dulu.” Sahut Septa.
“Tapi.....???”
Jawab Tania.
“Udah,
pokoknya aku tunggu jam 09.00. Yah udah aku masuk dulu yah, sampai ketemu
besok.” lanjutku.
Sebenarnya aku
tahu. Untuk seorang Tania bangun jam segitu adalah hal yang sangat sulit.
Namun, jika bukan buat janji sama aku, yakin aja deh dia bakalan bisa.
Hmmmm..... Malam
hari pun tiba. Bintang-bintang begitu memukau cahayanya. Terang dan bersinar
dihadapan mataku. Ingin rasanya kuraih dan ke gengam untuk kubawakan Tania.
Haaaahhhhaaaa.... (Tertawaku dalam hati). Aku memberikan harapanku malam itu
kepada bintang, agar semua yang kulakukan besok dapat berjalan dengan lancar.
Dan akupun bisa membuktikan kepada Rania atas omongannya yang membual itu.
Sampai membuatku begitu percaya padanya. “Pokoknya besok aku berhasil, Harus,
dan Harus...” sahutku dalam hati.
Keesokan
harinya...***
Kringgg....Kringggg....
Kring....
bunyi sepeda
pembawa koran yang berisik membuat tidurku terbangun. Aku langsung bergerak
dari tempat tidur dan melihat jam dindingku. Tepat pukul 07.00 WITA, aku
bergegas menuju kamar mandi.
Setelah beberapa
menit kemudian,,,,
Aku telah selesai
mandi dan membersihkan tempat tidur serta sarapan pagi. Itu aku lakukan setiap
pagi harinya. Memang sudah kebiasaanku sejak aku SMA. Lalu aku mempersiapkan
peralatan yang akan aku bawa ketempat perlombaan. Tepat pukul 08.50 WITA, aku
langsung bergegas menghubungi temanku tersayang itu. Hmmm... Harapan dia untuk
bangun pagi selalu terbiang dibenakku.
“Semoga dia udah bangun.” Sahutku
sendiri.
Tuuutttt....Tuuuttttt...Tuuutttt....
Bunyi nada dering
kereta api handphonenya. hahahaha....
“Hmm.... halo, kenapa ta?” Tanya
tania.
“Kamu
udah bangun kan, kamu udah mau kesini kan, kamu udah siap kan, hayo buruan ntar
aku enggak bisa latihan.” jawabku tak henti-hentinya seperti kereta yang tak
punya rem.
“Yah,
aku udah bangun. Tunggu 15 menit yah, aku menuju kerumahmu. oke sayang!”
Sahutnya.
Huuuhhh.... mengelah
napas.
Pikiranku udah
mulai aneh-aneh terhadapnya. “Jangan-jangan” kata itu yang terlintas seketika
dibenakku. Arghhhh... “Pasti dia baru bangun” “(sahutku kesel). akhirnya aku
menunggunya.
15 menit kemudian,
Tiiitt...tittt...
klakson mobil Tania berbunyi.
“Ahhhh...
Akhirnya muncul juga tuh anak. Lambat banget sih”
“kamu
ngapain aja sih. Dandan atau baru mandi, atau baru siap-siap??? “ Nyerosok
mulutku untukknya.
“Soryy...
Tadi biasa..!!!” jawab Tania dengan santai.
Dengan wajah
kesal. Aku menaiki mobilnya. Dari mulai rumahku hingga tiba ditempat
perlombaan, tak ada satu katapun yang kuucapkan untuknya. Mungkin, sedikit
kelewatan banget sih Tania. Tapi, kalau enggak digituin Tania bakalan
kebiasaan.
“Ntar aku jemput yah, aku lagi ada
urusan” Sahut Tania.
Aku hanya
mendengar kata-kata itu. Namun, tak kuhiraukan. Aku bergegas lari menuju tempat
latihanku itu. Dan Tania pasti menyadari kesalahannya itu. Hingga Tania tak
ingin melihat atau menungguku latihan menembak.
Tepat pukul 03.00
Wita,
Aku yang sudah
usai latihan sejak 2 jam yang lalu. Kini duduk berdiam diri. Tak ada teman yang
menemani. Kesepian, itu yang kurasakan. Ocehan, cerewetnya itu yang membuatku
kangen dengan Tania.
Seketika aku
menolehkan kepalaku kebelakang, ternyata sahabatku tersayang itu muncul bersama
dengan Rania. Aku terjut bukan main. Orang yang selama ini sering berkata
bohong padaku. Saat penting dia muncul dihadapanku.
“Hai, kamu nomor berapa?” Tanya
Tania.
Aku tak
menghiraukan pertanyaan Tania. “Rania, kamu ngapain kesini. Belum puas kamu
bilang kalau ada yang mengutukku. Sekarang kamu mau bikin bualan apa lagi?”
Tanyaku dengan nada marah.
“Sudah,sudah,
itu nah kamu dipanggil sama panitia. Mungkin udah giliranmu. Semangat yah. Cayo
cayo Cayo... “Teriak Tania.
“Yah,
aku permisi dulu. Inget yah, Rania urusan kita belum selesai. Inget itu”
Sahutku.
Giliranku telah
tiba. Buah apel pertama berhasil aku jatuhkan. Tiba buah apel kedua, dan
berhasil aku jatuhkan. Ketika buah apael yang ketiga. Kepalaku begitu pusing.
Hingga membuat mataku kabur tak terlihat apapun. Aku hampir jatuh ditempat itu.
Aku bediri tegak, dan diam sejenak. Setelah mulai tenang, aku melanjutkan
tembakan terakhirku untuk buah ketiga. Wow, aku berhasil. Ketiga buah apel itu
hancur ditanganku.
Aku berlari menuju
Tania dan memeluknya lagi. “Aku berhasil Tania, Aku behasil. “ Sahutku.
perasaan yang tak terduga menimpaku saat itu. Kebahagian yang tak tertandingan.
Selama 3 tahun aku tak pernah latihan
tembak-menembak, ternyata kemampuanku masih luar biasa. Inilah hidup, aku
percya ternyata jika aku bersungguh-sungguh bahwa aku bisa, aku memang pasti
bisa. Keyakinan kata “BISA” selalu ada dibenakku sampai saat ini. Aku enggak
akan melakukan hal bodoh lagi. “I was stupid but have Great abilities. Thank
god”
SELESAI.