Minggu, 12 Mei 2013

I am Stupid


Tembak.... ayo terus tembak...
“Berisik”, kata itu yang pantas aku teriakan kepada temanku itu. Dari awal mulai latihan dia udah teriak-teriak yang enggak jelas gitu. Dan membuatku sangat kesel. Namun, aku tetap fokus pada tujuanku. Aku harus bisa menembaknya hingga hancur berkeping-keping. Tapi, perasaan takut akan tembakanku melesat selalu dibiang di benakku. Sungguh sangat berpengaruh disaat aku sedang menembak. Muncul teriakan yang membuatku hilang kesadaran.
Diam sejenak, itu lah yang kulakukan untuk menghentikan teriakan itu. Dengan begitu mulut cerewet temanku bisa sedikit di rem. Hahahaha.... maklum dia adalah temanku yang paling cerewet. Dibalik kecerewetannya itu tersimpan hal yang indah untukku yaitu tulusnya persahabatan yang diberikannya untukku.
“Uh,,, cape aku teriak panas-panas gini, eh kamu malah berhenti gitu aja? Ada apa sih?” tanya Tania dengan wajah suntuk.
“Abisnya kamu mulai duluan! Kamu berisik banget taulah. Heran, mulutmu tuh enggak bisa diem apa?” Jawab Septa.
“Aku kirain ada apa. aku kan kaya gitu supaya kamu semangat nembaknya,” sahut Tania.
“oke....oke... tapi kamu jadi kecapean sendiri kan. Udah lebih baik kamu diem, supaya aku bisa lebih konsen.”
“Dan  pastinya.....?”
“Tembakanku enggak akan meleset deh. Aku makasih banget kalau kamu udah buatku semangat. Tapi, kamu diem aja aku udah semangat.” lanjut Septa dengan wajah yang mengejek.
“Maksud loe????” tanya Tania.
“Masa kamu enggak tau? Atau pura-pura?” Septa balik nanya.
“Aku benar-benar enggak tau.” Sahut Tania dengan wajah bingung.
Septa langsung berdiri sambil menatap wajah temannya. Dengan nada mengejek Septa meninggalkan temannya yang bingung karena omongannya sendiri.
“Dasar, Tania punya otak tapi enggak digunakan untuk berpikir.” (sahutnya dalam hati) ***


Setelah  berisitirahat beberapa menit, aku memulai lagi untuk menembak. Akupun mulai membidiknya agar tepat sasaran. Dan akhirnya aku berhasil mengenai buah Apel itu. Oh, tidaaaakkkkkk.... Aku langsung berteriak kegirangan dan melompat tinggi. Orang-orang yang ada disekitar itu terlihat bingung dengan sikapku yang aneh. Namun, aku tak memperdulikan mereka. Aku berlari menuju tempat temannku yang sedang duduk bersantai ria. Dan memeluknya, terkejut hatinya aku buat. Lalu diapun membalas pelukanku.
            “Ada apa sih? Kamu koq girang banget gini.” Tanya Tania.
            “Aku berhasil.”
“Aku berhasil mengenai buah Apel itu. Ternyata kemampuanku masih ada. Apa yang dikatakan Rania itu bohong. Dia hanya mengarang cerita kalau ada yang mengutukku. Hingga tak bisa menembak lagi. Walau hanya menembak Sebuah Apel.” Jawab Septa  dengan nada gembira.
“Wow, kamu berhasil. Syukurlah, akupun ikut senang mendengar hal itu.”
“Tapi, ngomong-ngomong bisa enggak kamu lepaskan pelukkan ini. Ntar dikirain kita ada apa-apanya lagi. Kan aku masih wajar kaleee...” Sindir Tania.
“Opppsss,,, maaf bah. Kita pulang yuk. Besok kan ada pertandingan tembak-menembak. Aku mau ikut, kamu temanin aku yah. Ntar dirumah latihan nembak lagi aku.” Jawab Septa.
Tanpa berkata apapun Tania langsung menarikku pulang. Sore itu begitu indah, membuatku semangat kembali untuk ikut perlombaan, dan percaya diriku muncul lagi. Senyuman yang tak pernah kulepaskan dari wajahku. Terkadang Tania melihatku seperti layaknya orang gila. Aku pikir itu wajar, karena tania belum pernah merasakan hal yang sebegitu indah buatku.
“Besok, jemput aku jam 09.00 WITA yah. Walaupun acara perlombaannya dimulai jam 03.00 sore, tapi aku mau latihan dulu.” Sahut Septa.
“Tapi.....???” Jawab Tania.
“Udah, pokoknya aku tunggu jam 09.00. Yah udah aku masuk dulu yah, sampai ketemu besok.” lanjutku.
Sebenarnya aku tahu. Untuk seorang Tania bangun jam segitu adalah hal yang sangat sulit. Namun, jika bukan buat janji sama aku, yakin aja deh dia bakalan bisa.
Hmmmm..... Malam hari pun tiba. Bintang-bintang begitu memukau cahayanya. Terang dan bersinar dihadapan mataku. Ingin rasanya kuraih dan ke gengam untuk kubawakan Tania. Haaaahhhhaaaa.... (Tertawaku dalam hati). Aku memberikan harapanku malam itu kepada bintang, agar semua yang kulakukan besok dapat berjalan dengan lancar. Dan akupun bisa membuktikan kepada Rania atas omongannya yang membual itu. Sampai membuatku begitu percaya padanya. “Pokoknya besok aku berhasil, Harus, dan Harus...” sahutku dalam hati.
Keesokan harinya...***
Kringgg....Kringggg.... Kring....
bunyi sepeda pembawa koran yang berisik membuat tidurku terbangun. Aku langsung bergerak dari tempat tidur dan melihat jam dindingku. Tepat pukul 07.00 WITA, aku bergegas menuju kamar mandi.
Setelah beberapa menit kemudian,,,,
Aku telah selesai mandi dan membersihkan tempat tidur serta sarapan pagi. Itu aku lakukan setiap pagi harinya. Memang sudah kebiasaanku sejak aku SMA. Lalu aku mempersiapkan peralatan yang akan aku bawa ketempat perlombaan. Tepat pukul 08.50 WITA, aku langsung bergegas menghubungi temanku tersayang itu. Hmmm... Harapan dia untuk bangun pagi selalu terbiang dibenakku.
            “Semoga dia udah bangun.” Sahutku sendiri.
Tuuutttt....Tuuuttttt...Tuuutttt....
Bunyi nada dering kereta api handphonenya. hahahaha....
            “Hmm.... halo, kenapa ta?” Tanya tania.
“Kamu udah bangun kan, kamu udah mau kesini kan, kamu udah siap kan, hayo buruan ntar aku enggak bisa latihan.” jawabku tak henti-hentinya seperti kereta yang tak punya rem.
“Yah, aku udah bangun. Tunggu 15 menit yah, aku menuju kerumahmu. oke sayang!” Sahutnya.
Huuuhhh.... mengelah napas.
Pikiranku udah mulai aneh-aneh terhadapnya. “Jangan-jangan” kata itu yang terlintas seketika dibenakku. Arghhhh... “Pasti dia baru bangun” “(sahutku kesel). akhirnya aku menunggunya.
15 menit kemudian,
Tiiitt...tittt... klakson mobil Tania berbunyi.
“Ahhhh... Akhirnya muncul juga tuh anak. Lambat banget sih”
“kamu ngapain aja sih. Dandan atau baru mandi, atau baru siap-siap??? “ Nyerosok mulutku untukknya.
“Soryy... Tadi biasa..!!!” jawab Tania dengan santai.
Dengan wajah kesal. Aku menaiki mobilnya. Dari mulai rumahku hingga tiba ditempat perlombaan, tak ada satu katapun yang kuucapkan untuknya. Mungkin, sedikit kelewatan banget sih Tania. Tapi, kalau enggak digituin Tania bakalan kebiasaan.
            “Ntar aku jemput yah, aku lagi ada urusan” Sahut Tania.
Aku hanya mendengar kata-kata itu. Namun, tak kuhiraukan. Aku bergegas lari menuju tempat latihanku itu. Dan Tania pasti menyadari kesalahannya itu. Hingga Tania tak ingin melihat atau menungguku latihan menembak.
Tepat pukul 03.00 Wita,
Aku yang sudah usai latihan sejak 2 jam yang lalu. Kini duduk berdiam diri. Tak ada teman yang menemani. Kesepian, itu yang kurasakan. Ocehan, cerewetnya itu yang membuatku kangen dengan Tania.
Seketika aku menolehkan kepalaku kebelakang, ternyata sahabatku tersayang itu muncul bersama dengan Rania. Aku terjut bukan main. Orang yang selama ini sering berkata bohong padaku. Saat penting dia muncul dihadapanku.
            “Hai, kamu nomor berapa?” Tanya Tania.
Aku tak menghiraukan pertanyaan Tania. “Rania, kamu ngapain kesini. Belum puas kamu bilang kalau ada yang mengutukku. Sekarang kamu mau bikin bualan apa lagi?” Tanyaku dengan nada marah.
“Sudah,sudah, itu nah kamu dipanggil sama panitia. Mungkin udah giliranmu. Semangat yah. Cayo cayo Cayo... “Teriak Tania.
“Yah, aku permisi dulu. Inget yah, Rania urusan kita belum selesai. Inget itu” Sahutku.
Giliranku telah tiba. Buah apel pertama berhasil aku jatuhkan. Tiba buah apel kedua, dan berhasil aku jatuhkan. Ketika buah apael yang ketiga. Kepalaku begitu pusing. Hingga membuat mataku kabur tak terlihat apapun. Aku hampir jatuh ditempat itu. Aku bediri tegak, dan diam sejenak. Setelah mulai tenang, aku melanjutkan tembakan terakhirku untuk buah ketiga. Wow, aku berhasil. Ketiga buah apel itu hancur ditanganku.
Aku berlari menuju Tania dan memeluknya lagi. “Aku berhasil Tania, Aku behasil. “ Sahutku. perasaan yang tak terduga menimpaku saat itu. Kebahagian yang tak tertandingan. Selama 3 tahun  aku tak pernah latihan tembak-menembak, ternyata kemampuanku masih luar biasa. Inilah hidup, aku percya ternyata jika aku bersungguh-sungguh bahwa aku bisa, aku memang pasti bisa. Keyakinan kata “BISA” selalu ada dibenakku sampai saat ini. Aku enggak akan melakukan hal bodoh lagi. “I was stupid but have Great abilities. Thank god”
SELESAI.